Dalam ramainya suara radio dengan gelombang-gelombang frekuensi yang bermacam-macam, sesaat terdengar alunan irama jazz, samba, rock n roll, dangdut (???), khotbah, berita nusantara dan paket request lagu dan saling kirim salam dari pendengar.
Di antara sekian macam siaran yang ditawarkan, liputan budaya Korea yang terpancar dari gelombang 105.8 FM menarik perhatianku. Sambil kutuntaskan permainan gitarku mengiringi senandungku "Beautiful Girl", kusimak liputan budaya Korea dengan bahasan pakaian tradisionalnya Hanbok.
"Pemiarsa di manapun anda berada, mari kita simak sebuah pernyataan tentang budaya korea yang mengatakan dalam masa kurang lebih lima ratus tahun, suatu bangsa dengan sejarah yang berkesinambungan bisa mengembangkan berbagai bentuk cara penyampaian. Selama ini bangsa Korea mengekspresikan rasa percaya, perasaan, kejadian-kejadian penting dalam kehidupan mereka melalui aneka raga cara. Hal ini menciptakan keanekaragaman sejarah dan "trend-trend" baru, yakni bercampurnya perbedaan dan kesamaan dalam gaya hidup Korea dewasa ini yang tak mungkin bisa dijumpai dimanapun juga."
Suatu pernyataan yang sangat luas dan butuh pencernaan yang dalam,menurutku. Apalagi setelah akhirnya kukupas dari siaran itu tentang Hanbok yang setelah itu dapat kusimpulkan merupakan sebuah paduan perbedaan dan kesamaan gaya hidup,ekspresi rasa percaya, perasaan, dan 'sense of belonging' bangsa besar itu.
Kusenandungkan lagi lagu 'Beautiful Girl' ku..
"Bentuk karya seni Korea yang paling bisa dilihat dan dipelajari, dapat dijumpai di jalan-jalan bahkan sekarang bisa dilihat di bandara Paris adalah HANBOK" Demikian kalimat 'booming' awal tentang HANBOK yang mampu menarik perhatianku dengan lebih. Kuhentikan senandung dan petikan gitarku.
"Pemiarsa, pakaian tradisional Korea yang disebut HANBOK bisa terbuat dari berjenis bahan dan warna tergantung berapa usia si pemakai dan kapan dipakainya pakaian tersebut. Para pemudi biasanya mengenakan rok merah menyala (chi'ma) dan jaket kuning (chogori) dengan lengan bercorak garis-garis yang multi warna.
Tapi setelah menikah mereka memakai rok merah dan jaket hijau. Sedangkan ibu-ibu lebih suka bahan yang beraneka pola dan berwarna terang. Pendengar di seluruh tanah air, ada pula HANBOK khusus yang lebih banyak ornamennya yang dipakai pada perayaan-perayaan tertentu. "
Ceria,meriah itulah kesan yang kuambil tentang Hanbok. Baju pestakah?
"Baik untuk laki-laki maupun wanita, Hanbok dibuat dari kain brokat sutera atau satin untuk musim dingin dan sutera tipis untuk cuaca hangat. Pada musim panas sering dipakai kain rami hasil tenunan tangan dan dibuat menjadi outfit tipis dan kaku."
Aku bertanya-tanya, apakah ini dapat mencerminkan fleksibilitas bangsa Korea, kreatifitas, dan menyamakan kedudukan laki-laki dan wanita dalam kehidupan sosialnya? Dan liputan itupun berlanjut...
"Di bawah pengaruh gaya busana dari China, orang-orang Korea terpandang mengenakan celana panjang besar dan jaket bertali, dan bagi para perempuan, celana rok panjang dan jaket berpinggul panjang, dipakai hingga akhir periode tiga kerajaan. Setelah itu, di bawah pengaruh Mongol, jaket wanita diperpendek dan rok panjang ujung atasnya dipakai tinggi-tinggi hingga pinggang. Kemudian hingga abad ke 15, ujung atas rok tersebut lebih tinggi lagi hingga di bawah lengan, dan jaket diperpendek persis seperti HANBOK wanita yang dipakai pada masa sekarang"
Wuih....ternyata rentetan waktu dan masalah selera sangat diperhatikan, tampak dari perubahan mode yang senantiasa berubah. Menurutku, itulah tampilan dinamika perasaan mereka.
"Para pendengar, lengan baju berbentuk kurva dan kerah putih kecil, dan dasi bersisi satu yang ada pada HANBOK wanita adalah tiga bagian penting yang indah yang dimiliki HANBOK. Perlengkapan tidaklah lengkap tanpa aksesoris. Wanita-wanita aristokrat dari periode Choson seing menghabiskan waktunya untuk membordir pita rambut yang yang panjang yang berornamen lengkap, saku dari sutera atau dompet (pokjumoni) baik untuk laki-laki maupun perempuan serta Norigae.
Norigae adalah anting-anting yang diikat di bawah kerah jaket, yang berornamen, seperti ukiran batu aji atau pisau perak kecil, dengan lengkungan di atasnya serta jumbai sutera. Aksesoris untuk laki-laki kebanyakan terdiri dari topi-topi yang bentuknya kaku (kat), yang dipakai oleh kebanyakan orang pada periode Shilla hingga awal abad ini, dan tali sutera panjang yang dililitkan di dada. Tapi, pada masa-masa sekarang, aksesoris tersebut sudah hampir tidak dipakai oleh laki-laki kecuali pada suasana seremonial"
...Beautiful Girl, where ever you are...I knew when I saw you...you had opened the door...
Aksesoris memang mempercantik sesuatu yang global, seglobal dan seluas kebudayaan Korea dipercantik dengan keindahan dan keapikan pakaian tradisional Korea. Dan mungkin semua orang akan meng-iyakan setelah semua mata menjadi saksi 'kesempurnaannya'
"Memang pakaian tradisional sekarang biasanya dikenakan pada kesempatan-kesempatan yang bersifat sosial, seperti pesta perkawinan, atau tahun baru atau pesta ulang tahun ke-60. Hingga sekarang, baik di jalan-jalan maupun di jalan bawah tanah, anda semua bisa jumpai hampir setiap hari orang-orang memakai HANBOK yang sudah dimodifikasi, yakni yang longgar, nyaman dan mudah di rawat."
Praktis...itulah yang akhirnya dicari setiap orang. dan menurut pendapatku, masalah HANBOK ini juga mencari klimaks perkembangan pada suatu puncak praktis tanpa meninggalkan akar-akar rasa indah percaya dan kombinasi jaman ke jaman.
"Itulah para pendengar, cerita sekitar pakaian tradisional Korea, HANBOK."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar